Tenun Ikat Flores PDF Cetak E-mail
Nusantara
Senin, 07 September 2009 20:13
Flores - Pulau Flores adalah pulau utama di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ia dikelilingi oleh puluhan pulau-pulau kecil dari ujung barat hingga ujung timur. 

Pulau Flores didiami oleh hampir tiga puluh suku kecil dan besar. Setiap suku mempunyai bahasa daerah dan dialeknya masing-masing yang sangat sulit diucapkan dan dipelajari bagi para pendatang, meski bertahun-tahun telah menetap.

Diantara beberapa suku-suku dominan, di bagian barat pulau menyebar orang Manggarai, di bagian tengah tinggal orang Ngada, Riung dan Nage Keo, sedangkan di bagian timur berdiam orang Ende. Terus ke timur menetap orang Lio, Sikka dan Larantuka. Sejak negeri ini merdeka, masing-masing suku yang awalnya merupakan kerajaan-kerajaan lokal itu membentuk wilayahnya menjadi pemerintahan kabupaten. Karena itu, tiap-tiap kabupaten di Flores memiliki bahasa daerah dan tradisinya masing-masing yang tak sama satu dengan lainnya. 

Tak hanya itu, mayoritas masing-masing penduduk di tiap kabupaten pun memeluk agama berbeda. Suku Ngada, Riung, Naga Keo adalah mayoritas pemeluk Katolik Ortodoks. Masyarakat Ende yang pada masa Portugis hingga Belanda mendirikan Kesultanan Islam Ende, merupakan mayoritas muslim. Sementara suku Lio, Sikka hingga Larantuka umumnya pemeluk Protestan dan Katolik. 

Meski berbeda suku, bahasa daerah, tradisi bahkan agama, namun semua suku, semua wilayah, semua daerah di Flores mewarisi satu tradisi yang sama, yaitu, tradisi tenun ikat. 

Kesamaan tenun ikat semua suku di Flores ditemukan pada kesamaan bahan-bahan, teknik membuat benang, teknik menenun, teknik meracik warna dan alat pembuat. Perbedaannya hanya terdapat pada variasi motif, warna dan ragam hias.

Karena itu, pada umumnya kain tenun ikat Flores yang dibuat oleh kaum wanita berbahan dasar kapas yang dipilin menjadi benang oleh penenunnya sendiri, berbenang kasar, pewarnaan benang terbuat dari racikan beberapa jenis tumbuhan khas Flores, seperti mengkudu, tarum, zopha, kemiri, ndongu, buah usuk dan lain–lain. 

Motif kain tenun tiap-tiap suku di Flores berbeda dengan kekhasannya dan ragamnya masing-masing. Teknik pembuatan motif kain tenun dilakukan dengan mengikat benang-benang lungsi. Pekerjaan ini dapat berlangsung selama dua hingga tiga purnama. 

Seringkali pencelupan benang yang dipilin dari kapas dilakukan satu-persatu untuk setiap bakal kain sarung, meskipun kadang-kadang juga dilakukan sekaligus untuk beberapa buah kain sarung. 

Ketika kerajaan-kerajaan lokal di Flores masih ada, sejumlah kelompok wanita bekerja khusus sebagai pembuat kain tenun untuk kebutuhan kalangan raja-raja di istana. Jika dahulu ada pembedaan pakaian adat berdasarkan status sosial, sekarang tidak lagi. Kini kain tenun ikat Flores dibuat untuk dijual di pasar, dipakai sehari-hari dan untuk upacara adat.

Semua kain tenun ikat Flores harus ditenun dengan alat tenun yang sangat tradisonal, dililit di pinggang wanita penenun, melekat tak terpisahkan. 

Kapas yang telah dipilin menjadi benang oleh sang wanita penenun pun ditenun dua hingga tiga purnama saban hari menggunakan alat tenun sangat tradisional yang terdiri dari konggo, kape, fia, phoku dan sippe. 

Alat-alat tenun sangat tradisional yang terbuat dari kayu dan bambu itu, berpadu melilit pinggang wanita penenun dari mentari setinggi tombak hingga sore menjelang. 

Tiap gerakan dua tangan terampilnya memadukan alat-alat tenun, menghadirkan alunan sentakan menggoda, tercipta nada yang seakan melafazkan jeritan kehidupan.

Meski terdapat kesamaan dalam bahan-bahan, teknik membuat benang, alat tenun, teknik menenun dan meracik warna, namun tiap wilayah di Flores mewarisi motif tenun yang beragam.

Misalkan di daerah Ngada, terdapat motif tenun songket kuning emas sebagai pengganti songket benang emas. Tetapi tak seperti songket Palembang, kain tenun songket Ngada, Flores, yang ditenun dengan benang kapas ini mempunyai banyak persamaan dengan kain songket Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, yang tanpa benang emas dan perak layaknya songket Palembang. 

Motif lain yang kerap dikreasikan masyarakat Ngada adalah motif dengan dominasi warna-warna gelap, antara lain, dengan kombinasi warna biru dan cokelat dengan garis-garis sederhana. 

Sedangkan suku Nage Keo menghasilkan tenunan yang menampilkan motif bintik-bintik kecil dari teknik ikat pembentuk motif flora yang dikombinasikan dengan jalur-jalur kecil berwarna putih, merah dan biru.

Di kalangan masyarakat Sikka, motif kain tenun tak terlalu semarak. Umumnya didominasi warna hitam, biru tua atau biru hitam, dihiasi dengan jalur-jalur biru muda atau biru toska. 

Selain itu, ada hal lain yang khas dalam pakaian adat Sikka, kain tenun warna hitam atau gelap hanya dipakai oleh mereka yang telah berumur, sedangkan kaum muda memakai kain tenun berwarna terang.

Kain tenun motif masyarakat Sikka bertolak belakang dengan motif tenun masyarakat Lio. Kain tenun ikat Lio, Flores tengah, bermotif ceplok seperti jelamprang pada kain batik. Selain motif ceplok, juga dihiasi motif daun, dahan dan ranting. 

Kain tenun ikat dari kawasan ini dibuat lebih halus, lebih semarak ragam hiasnya dari manik dan kerang. Kain tenun ikat Lio dibuat dengan latar warna cokelat tua, diberi ragam hias berwarna cokelat muda campur kuning bergaris geometris dalam bentuk flora. 

Sementara kain tenun ikat Flores dari kawasan Ende, pesisir selatan Flores, menurut keterangan nenek dan beberapa sepupu perempuan saya yang memiliki keahlian menenun kain ikat, dikatakan bahwa motif kain tenun Ende, Flores, dipengaruhi oleh motif Eropa. Alasan mereka, Kesultanan Islam Ende yang pendiriannya terkait perang di Gowa, Sulawesi, sejak masa Portugis berinteraksi dengan bangsa pendatang, diantaranya orang Eropa. 

Kain tenun ikat Ende lebih banyak menggunakan warna dasar hitam, yang dipadu dengan cokelat dan merah, dengan menggunakan ragam hias motif ala Eropa. 

Salah satu ragam hias kain tenun Ende, Flores, yang berbeda dengan kain daerah-daerah lain adalah hanya menggunakan satu motif pada bidang tengah-tengah kain. Motif tersebut diulang-ulang dan baru berhenti pada jalur pembatas bermotif sulur di kedua ujung kain yang menyerupai tumpal dan diberi hiasan rumbai-rumbai. 

Adapun motif kain tenun Ngada, Flores, mempunyai keunikan di bagian kepala berwarna biru tua dan bagian badan kain di kiri dan kanan berwarna merah. Motif ragam hiasnya terletak pada bagian tengah kain. Hiasan pinggir atas dan bawah berupa tumpal bentuk daun. 

Deskripsi sederhana ini semoga mampu menggambarkan ragam tenun ikat Flores yang hingga kini masih dipelajari dan dilestarikan oleh masyarakat setempat. 

Warisan ini terus dilestarikan meski hingga hari ini tak terasa kehadiran dukungan pemerintah sehingga para penenunnya tetap terbelit kemiskinan dan belum mampu bersaing dalam dunia usaha.

Terselip kekhawatiran, akankan di masa depan tradisi warisan nenek moyang ini masih tetap dipelajari dan dilestarikan, toh dari sisi ekonomi tak mampu bersaing dengan kain-kain modern pabrikan. 

Saya berharap, suatu saat nanti para penenun dari Pulau Bunga ini difasilitasi pemerintah dan dunia perbankan agar mampu menjadi pelaku-pelaku industri dan perajin kecil-menengah, seraya mampu menghidupi keluarganya dari profesi mulia ini, layaknya saudara-saudara mereka di Pulau Jawa yang melestarikan batik. Allahu a’lam (Buya AA)
 
(tim adangdaradjatun.com) 

AddThis
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
Masukkan Kode Anti-Spam yang ada pada Gambar di Atas Pada Kolom Kosong Di Sampingnya

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

 

Berita

Adang Daradjatun ajak masyarakat gunakan hak pilih

Selasa, 8 April 2014

News image

Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PKS Adang Daradjtun mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam pemilu yang digelar 9 April besok. Adang Daradjatun yang biasa disapa Bang Adang mempersilakan masyara...

Bazar dan Sembako Murah

Kamis, 3 April 2014

News image

Adang Daradjatun mengadakan Acara Bazar dan Semako Murah untuk masyarakat di Lagoa Terusan RW 02 Kelurahan Lagoa Kecamatan Koja Jakarta Utara hari Kamis, 3 April 2014. BERIKUT FOTO ...

Senam dan Festival Rakyat Jakarta Utara

Sabtu, 29 Maret 2014

News image

Adang Daradjatun melakukan senam bersama masyarakat Jakarta Utara dalam acara Festifal Rakyat di Jalan Bugis Kelurahan Kebon Bawang Kecamatan Tanjung Priok Jakarta Utara (30 Maret 2014). BERIKUT FOTO KEGIATAN ...

Mancing Bareng Masyarakat Jakarta Barat

Sabtu, 29 Maret 2014

News image

Drs. H. Adang Daradjatun Anggota Komisi III DPR RI mancing bareng masyarakat Jakarta Barat tepatnya di kolam ikan bu Hadrah pada tanggal 30 Maret 2014.   BERIKUT FOTO ...

Lifter Eko Yuli Irawan mendapat bonus Rp.200 juta

Selasa, 25 Maret 2014

News image

PT So Good Food memberikan penghargaan kepada lifter putra Indonesia, Eko Yuli Irawan, atas prestasinya yang berhasil meraih medali emas di kelas 62 kg, dalam ajang SEA Games XX...

Ngumpul Bareng Remaja Kebayoran 60an di Jakarta

Selasa, 25 Maret 2014

News image

Perkumpulan Remaja Kebayoran 60 an kembali menggelar silaturahmi, ngumpul bareng dan temu kangen yang dihadiri hampil 600an para sesepuh Kebayoran yang waktu remajanya mereka bersekolah SD, SMP dan SMA di wila...

Adang Daradjatun silaturahmi dengan Purnawirawan Polri

Sabtu, 22 Maret 2014

News image

Anggota Komisi III DPR RI Komjen Polisi (P) Adang Daradjatun mengadakan silaturahmi bersama Keluarga Besar Putra Putri Polri (KBPPP) dan Purnawirawan Polri di Kebantenan Semper Jakarta Utara ke...

Adang Daradjatun selalu bersilaturahmi dengan masyarakat

Senin, 17 Maret 2014

News image

Masyarakat Indonesia kini sudah mempercayai PKS sebagai partai yang bersih dan peduli. Kepercayaan ini dibangun dengan terus melakukan silaturahim dan melakukan kegiatan-kegiatan positif untuk menghambil hati masyarakat. Ka...

Adang Daradjatun mengikuti Kampanye Terbuka PKS di Gelora Bung Karno

Minggu, 16 Maret 2014

News image

Adang Daradjatun mengikuti Kampanye Terbuka PKS di Gelora Bung Karno Ribuan massa pendukung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sudah memadati Gelora Bung Karno (GBK) untuk mengikuti kampanye terbuka perdana partai dengan nomor ur...

Raker dengan Menlu dan Menkumham

Kamis, 6 Februari 2014

News image

Anggota Komisi III DPR RI Adang Daradjatun menghadiri Rapat Kerja Komisi III pada masa persidangan III  di Gedung DPR RI pada Kamis 6 Februari 2014.Rapat Kerja ini membahas RU...

Adang Daradjatun Mengikuti Rapat Pleno di DPR

Selasa, 4 Februari 2014

News image

Anggota Komisi III DPR RI Fraksi PKS Adang Daradjatun mengikuti Rapat Pleno untuk menentukan Calon Hakim Agung yang diajukan Komisi Yudisial di Ruang Komisi III Gedung DPR RI (4 Februari 20...

Adang Daradjatun Rapat Dengar Pendapat (RDP) Tim Pengawas DPR RI untuk Perlindun

Rabu, 29 Januari 2014

News image

Anggota Komisi III DPR RI Fraksi PKS Adang Daradjatun mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) Tim Pengawas DPR RI terhadap Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dengan Polri Kemenakertrans RI, Kemenkumham RI, Ke...

DPR RI Rapat Kerja dengan Kepolisian RI

Selasa, 28 Januari 2014

News image

Anggota Komisi III DPR RI Adang Daradjatun mengikuti Rapat Kerja DPR RI dengan Kepolisian (29 Januari 2014). berikut foto ke...

Adang Daradjatun hadiri Apel Siaga Bencana 2014

Minggu, 26 Januari 2014

News image

Adang Daradjatun bersama ribuan relawan PKS melakukan apel siaga bencana banjir di Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu (25/1) siang ini.   Acara apel siaga dihadiri sejumlah tokoh nasional, yaitu Presiden PKS Anis Matta, ...

Adang Daradjatun melakukan silaturahmi dan menyerap aspirasi masyarakat Jakarta

Rabu, 25 Desember 2013

News image

Anggota KOmisi III DPR RI Adang Daradjatun melakukan silaturahmi dan menyerap aspirasi masyarakat di Jakarta Barat pada 25 Desember 2013.Hadir dalam kegiatan ini Anggota DPRD DKI Rois Hadayana, ketua majelis takl...